Senin, 27 Desember 2010

Jaranan Asli Kediri

Jaranan, merupakan salah satu tarian tradisional khas Kediri. Selain sebagai hiburan, seni jaranan juga dikenal sebagai alat pemersatu masyarakat di Kediri. Meski berupa tarian, Jaranan memiliki ciri tersendiri, baik dari tarian, pakaian yang dikenakan, serta irama yang mengiringinya. Kesenian Jaranan asli Kediri, biasa diiringi dengan berbagai alat musik, seperti gamelan, gong, kendang, kenong. Sedangkan, dilihat dari tariannya, ada 2 macam tarian yang digunakan, yaitu tarian pegon atau jawa, dan tarian senterewe yakni gabungan antara tarian jawa dengan tarian kreasi baru.

Agus Suryanto, Ketua Pembina Kesenian Jaranan Turonggo Putro Bismo, yang berada di Kelurahan Kampungdalem Kota Kediri menuturkan, Jaranan, sebenarnya menggambarkan cerita masa lalu, ketika Raja Bantar Angin, seorang raja dari Ponorogo bermaksud melamar Dewi Songgolangit, putri cantik dari kerajaan Kediri, atau yang biasa disebut juga dengan Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana. Konon menurut cerita, karena wajahnya jelek, Raja Bantar Angin akhirnya menyuruh Patihnya, yang bernama Pujangga Anom, seorang patih yang dikenal sangat tampan. Agar Dewi Sekartaji tidak tertarik dengan Patih Pujangga Anom, Raja Bantar Angin memintanya memakai sebuah topeng buruk rupa. Lalu Patih Pujangga Anom, datang ke kerajaan Kediri, menyampaikan maksud rajanya. Putri Sekartaji, yang mengetahui Patih Pujangga Anom mengenakan topeng, merasa tersinggung, lalu menyumpahi agar topeng tersebut, tidak bisa dilepas seumur hidup. Raja Bantarangin, akhirnya datang sendiri ke Kerajaan Kediri. Sebagai gantinya, Dewi Songgolangit meminta 3 persyaratan. Jika Raja Bantarangin bisa memenuhi, dirinya bersedia diperistri. Tiga syarat tersebut, binatang berkepala dua, 100 pasukan berkuda warna putih, dan alat musik yang bisa berbunyi jika dipukul bersamaan. Sayangnya, Raja Bantarangin, hanya bisa memenuhi 2 dari 3 persyaratan tersebut, 100 kuda warna putih yang digambarkan dengan kuda lumping, alat musik yang bisa dipukul bersamaan yakni gamelan. Sehingga, terjadi pertempuran diantara keduanya. Kerajaan Kediri, datang dengan membawa pasukan berkuda, yang kini digambarkan sebagai jaranan, sementara Kerajaan Ponorogo membawa pasukan, yang kini digambarkan sebagai kesenian Reog Ponorogo.

Diperjalanan, terjadi pertempuran. Raja Ponorogo yang marah, membabat macan putih yang ditunggani patih kerajaan Kediri, dengan cambuk samandiman, hingga akhirnya melayang ke kepala salah satu kesatria dari Ponorogo. Bersamaan dengan kejadian tersebut, seekor burung merak, kemudian juga menempel dikepala kesatria tersebut, sehingga ada kepala manusia yang ditempeli kepala macan putih dan merak, ini yang sekarang disimbolkan reog Ponorogo. Bahkan, dalam tarian reog, semua penari juga membawa cambuk. Sementara dalam kesenian jaranan, menggambarkan pasukan berkuda Dewi Sekartaji yang hendak melawan Raja Ponorogo. Barongan, Celeng dan atribut didalamnya, sebagai simbol, selama dalam perjalanan menuju Ponorogo yang melewati hutan belantara, pasukan juga dihadang berbagai hal, seperti naga, dan hewan hewan liar lainnya.

jaranan2Sementara, terkait dengan munculnya makhluk halus yang konon selalu merasuki tubuh penari, dalam pertunjukan jaranan, menurut Hariadi pawang seni tradisional Jaranan Kelurahan Kampung Dalem, itu hanya ada di Kediri. Biasanya, kalau sudah menyatu dengan jaranan, pemain yang kerasukan mahkluk halus, agak sulit disadarkan.

Mereka, akan meminta berbagai macam makanan, seperti kemenyan, madu, dan candu. Tak jarang, ada juga yang meminta ubi, jagung, ayam, hingga kambing yang masih terdapat darahnya. Konon, ketika tubuh pemain sedang dimasuki makhluk halus, kemudian ada penonton yang mengeluarkan bunyi peluit, maka pemain tersebut akan marah dan mencari orang yang mengeluarkan suara.

Kini, kesenian tradisional Jaranan, sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat, seiring perkembangan jaman. Meski begitu, masih banyak segelintir masyarakat, yang berusaha mempertahankan, agar tidak punah. Salah satunya kesenian tradisonal jaranan yang bernama Turonggo Putro Bismo, yang berada di Kelurahan Kampung Dalem Kecamatan Kota Kediri. Kesenian Tradisional Jaranan Turonggo Putro Bismo, yang didirikan pada 15 Februari 2010 tersebut, beranggotakan sekitar 50 orang, mulai anak anak usia 10 Tahun, hingga orang dewasa, baik wanita maupun laki laki. Menurut Hariadi, Kesenian jaranan, sebenarnya bukan hanya sekedar kesenian. Namun, disisi lain mempunyai arti dan pesan bagi kehidupan. Dimana, dalam kehidupan, manusia tidak boleh memiliki hati yang jahat. Tetapi harus mengutamakan budi pekerti yang baik, dan bisa menjaga kerukunan dengan sesama manusia. (Anto Kristian )

Makanan khas kediri

Banyak hal yang dapat kita temukan di Kediri, yang dapat menjadikannya sebuah kenangan ketika kita berkunjung ke sana.  Lewat website ini anda diharapkan dapat merasakan sesuatu yang khas di Kediri.  Kekhasan ini bukan hanya dipandang sebagai suatu cinderamata yang dapat anda beli di sebuah toko di Kediri, namun bih jauh dari itu -- seandainya anda belum sempat ke Kediri -- anda akan tergugah untuk berkunjung.


Aneka makanan yang khas dapat anda konsumsi seperti buah-buahan dan makanan.   Buah mangga di mana pun ada tetapi tidak untuk mangga podangTampilan buah ini cukup menggiurkan karena bentuk dan warnanya yang mempesona.  Dengan bentuk yang tidak terlalu besar dan warnanya yang kuning kemerah-merahan serta aromanya yang sangat khas.  Selain mangga, ada "tahu" yang sudah sejak lama dikenal dengan sebutan tahu kediri, tahu ini cukup tebal dan besar, dengan warna kuning atau putih, anda akan merasa kenyang dengan mengkonsumsi sepotong tahu saja.  Setelah makan tahu anda

boleh mencoba nasi pecel,ada juga sate bekicot,dan kripik tahu.

Gramedia Kediri

Kediri sekarang punya gramedia kediri yang terletak di jl.Joyoboyo kediri no 2 yang terletak tepat di sebelah kediri mall.info lengkap dapat kamu lihat di websitenya  www.gramediakediri.blogspot.com

Kediri Mall

Mall paling lengkap di Kediri saat ini..ada Inul Vista, Pizza Hut, McD, CFC, Food Court, Supermarket, Game Fantasia, dLL.Terletak di jalan hayam wuruk dan bersebelahan dengan Sri Ratu.

Tirta Mas kolam pemancingan dan lesehan

Pemancingan dan lesehan bersuasana alami dan nyaman. Pemancingan dengan sensasi ikan2 berukuran monster.

Air terjun parijotho

Air Terjun Parijotho Wisata Alam Baru Di Kediri
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri kini memiliki satu obyek wisata baru. Air Terjun Parijotho, di Desa Pamongan, Kecamatan Mojo. Lokasi Air terjun bersap tiga ini pertama kali ditemukan seorang warga yang hendak ke hutan di Desa setempat.Warga sangat antusias sekali membuka akses jalan masuk ke lokasi. Mereka bekerja dengan bersama-sama untuk membuka akses jalan menuju lokasi wisata alam ini.
Air Terjun Parijoto benar-benar luar biasa, ketinggian masing-masing sap 40 meter. Lokasinya berada di sebelah selatan Air Terjun Dolo. Kini, tim dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri masih melakukan survey. Ini adalah objek wisata alam baru, dan dapat menambah koleksi tujuan wisata Kabupaten Kediri.
Air Terjun Parijotho dapat diakses melalui Jalan Raya Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Falah, Desa Ploso, Kecamatan Mojo. Lokasinya berada di sebelah barat pondok dengan jarak tempuh 12 kilometer.
Dari arah barat kota Kediri, air terjun Parijotho, berjarak kurang lebih 25 kilometer. Karena baru ditemukan, kendaraan roda empat baru bisa masuk sampai dengan jarak 3 kilometer. Kemudian, pengunjung dapat menuju ke lokasi naik sepeda motor, sampai jarak 2 kilometer. Selanjutnya ditempuh jalan kaki.
Dengan ditemukannya Air Terjun Parijotho, penikmat wisata alam bisa memiliki alternatif baru dari Air Terjun Dolo dan Ironggolo yang terletak di Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo.

Air terjun dolo


Kabupaten Kediri memiliki beberapa air terjun yang cantik.Salah satunya, Air Terjun Dolo. Tempat wisata ini terletak di dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo,Kediri. Jarak tempuh dari Kota Kediri ke arah barat, kurang lebih 25 kilometer. Meski agak jauh, tapi pemandangan di sepanjang jalan menuju lokasi terbilang sangat indah dan mudah.
Tiba di Besuki, sembari melepas lelah,kita bisa menikmati panorama di Desa Jugo, Mojo,di sekitar menara pemancar relay televisi dan telepon seluler. Disana kita bisa menemukan Air Terjun Irenggolo. Setelah lima menit melalui jalan setapak, air terjun bertrap-trap alami ini bisa kita lihat. Tersembunyi di teduhnya rerimbunan pinus dan hutan, hembusan angin pegunungan, dan suara alam yang unik.
ImagePuas di sini, kita bisa melanjutkan perjalanan ke Dolo. Jarak tempuh dari Besuki sekitar 4 kilometer. Sampai di titik pemberhentian, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki menuju air terjun. Jalan yang kita lewati terbuat dari bebatuan yang desainnya dipadu dengan lingkungan. Sehingga kesan alami tetap terjaga. Apalagi di saat-saat tertentu, suara kicau burung terdengar tanpa henti.
Setelah kurang lebih 10 menit menapaki jalan lambat laun kita akan mendengar gemricik air terjun. Letak kawasan wisata air terjun ini kurang lebih 1.800 meter di atas permukaan laut. Sedang ketinggian air terjunnya sendiri diperkirakan mencapai 125 meter. Begitu mendekati air terjun ini,kita langsung merasakan butiran-butiran air terjun yang sebagian terbang mengikuti angin. Suara gemuruh airnya seperti melengkapi sensasi Air Terjun Dolo Kabupaten Kediri memiliki beberapa air terjun yang cantik.Salah satunya, Air Terjun Dolo. Tempat wisata ini terletak di dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo,Kediri. Jarak tempuh dari Kota Kediri ke arah barat, kurang lebih 25 kilometer. Meski agak jauh, tapi pemandangan di sepanjang jalan menuju lokasi terbilang sangat indah dan mudah.
Tiba di Besuki, sembari melepas lelah,kita bisa menikmati panorama di Desa Jugo, Mojo,di sekitar menara pemancar relay televisi dan telepon seluler. Disana kita bisa menemukan Air Terjun Irenggolo. Setelah lima menit melalui jalan setapak, air terjun bertrap-trap alami ini bisa kita lihat. Tersembunyi di teduhnya rerimbunan pinus dan hutan, hembusan angin pegunungan, dan suara alam yang unik.
ImagePuas di sini, kita bisa melanjutkan perjalanan ke Dolo. Jarak tempuh dari Besuki sekitar 4 kilometer. Sampai di titik pemberhentian, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki menuju air terjun. Jalan yang kita lewati terbuat dari bebatuan yang desainnya dipadu dengan lingkungan. Sehingga kesan alami tetap terjaga. Apalagi di saat-saat tertentu, suara kicau burung terdengar tanpa henti.
Setelah kurang lebih 10 menit menapaki jalan lambat laun kita akan mendengar gemricik air terjun. Letak kawasan wisata air terjun ini kurang lebih 1.800 meter di atas permukaan laut. Sedang ketinggian air terjunnya sendiri diperkirakan mencapai 125 meter. Begitu mendekati air terjun ini,kita langsung merasakan butiran-butiran air terjun yang sebagian terbang mengikuti angin. Suara gemuruh airnya seperti melengkapi sensasi Air Terjun Dolo

Kampung Inggris

Kampung Inggris adalah sebuah komunitas yang beraktifitas dan berkomunikasi dengan bahasa inggris, terletak di desa tulungrejo pare kediri jawatimur. karena di dominasi oleh puluhan kursusan dan ribuan pendatang untuk belajar bahasa inggris. oleh karenanya desa tersebut di namakan kampung inggris. info lebih lanjut d www.kampunginggris.com

Totok Kerot

Sepintas arca Totok Kerot yang berada di Desa Bulusari, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, tidak jauh beda dengan sepasang Arca Dwarapala yang berada di Singosari. Hanya saja kondisinya lebih mengenaskan karena terdapat bagian tubuh yang hilang terutama tangan kirinya. Arca ini juga tidak memegang gada seperti halnya Arca Dwarapala, atau mungkinkah bagian tangan yang hilang dari arca ini memegang senjata tersebut ? Tidak ada penjelasan yang pasti. Yang jelas arca ini tegak duduk seorang diri di antara areal sawah penduduk berteman pagar besi yang mengitarinya dan sebuah pos jaga yang ketika saya mengunjungi saat itu, tidak nampak seorang pun ada didalamnya. Arca Totok Kerot merupakan prasasti jaman Raja Sri Aji di Lodaya, Kerajaan Pamenang. Konon kabarnya, dulu ada seorang putri cantik dari Blitar. Sang putri, waktu itu datang ke Pamenang untuk melamar Joyoboyo, yang sangat tersohor kedigdayaannya. Malang bagi sang putri, karena Joyoboyo menolak lamaran itu.







[navigasi.net] Budaya - Arca Totok Kerot
Relief tengkorak merupakan dekorasi umum menghiasi "aksesories" yang dikenakan oleh arca ini


Akhirnya, terjadilah pertempuran hebat di antara keduanya. Karena kalah sakti, putri cantik itu mendapat kutukan dari Joyoboyo, dan berubahlah ia menjadi raksasa wanita berbentuk Dwarapala. Patung raksasa itulah yang hingga kini dikenal sebagai arca Totok Kerot. Arca ini dulunya terpendam dalam tanah. Karena oleh penduduk, di tempat tersebut dikabarkan ada benda besar, maka pada 1981 lokasi itu digali. Hingga akhirnya, arca itu muncul separuh. Entah pada tahun berapa dilakukan penggalian ulang yang jelas saat saya berkunjung lebaran tahun 2005, patung tersebut telah muncul secara utuh diatas permukaan tanah.
Lokasi dimana arca Totok Kerot ini berada sangat sepi, seperti layaknya lokasi-lokasi arekologi lainnya yang sepi pengunjung. Sesekali terlihat pasangan muda-mudi yang mampir sebentar (berpacaran ?) untuk berteduh dibawah pohon rindang yang ada disekitar patung. Tidak adanya petugas jaga saat saya berkunjung disana semakin menegaskan bahwa memang objek wisata arkeologi ini jarang dikunjungi. Atau mungkinkah saya yang salah menentukan waktu berkunjung karena datang pada hari-hari menjelang lebaran.

Petilasan Sri Aji Jayabaya


Setelah mengelar doa bersama di balai desa Menang,
rombongan melakukan kirab menuju petilasan Jayabaya.


Pada abad XII kerajaan Kediri pernah dipimpin oleh seorang raja yang bergelar prabu Sri Aji Jaya Baya. Dalam sejarah kerajaan Kediri, Jayabaya adalah raja yang dikenal sakti dan mampu meramalkan kejadian yang akan datang. Ramalan itu dikenal dengan "Jongko Joyoboyo. Bahkan beberapa masyarakat percaya ramalan tersebut masih berlaku hingga sekarang.



Selain pada 1 Muharam, pada hari-hari tertentu petilasan ini juga ramai dikunjungi para peziarah.
Menurut para sesepuh desa Menang, Jayabaya adalah titisan dari dewa Wisnu. Yaitu dewa yang menjaga keselamatan dan kesejahteraan di muka bumi. Cerita rakyat yang berkembang di masyarakat pada akhir hidupnya Jayabaya tidaklah meninggal. Melainkan muksa atau raib jiwa beserta jasadnya. Tempat muksa Jayabaya terletak di desa Menang, kecamatan Pagu. Tepatnya sekitar 8 km dari kota Kediri.


Selama prosesi upacara berlangsung, hanya para sesepuh beserta pembawa perlengkapan ubo rampe
saja yang diperbolehkan masuk area petilasan.
Menurut Misri sang juru kunci petilasan, ada empat tempat sakral di komplek tersebut. Beberapa tempat itu adalah loka mukso yaitu tempat prabu Jayabaya menghilang atau mukso, loka busana tempat meletakkan busana kebesarannya sebelum muksa, loka mahkota sebuah tempat untuk meletakkan mahkotanya, dan yang terakhir adalah Sendang Tirto Kamandanu tempat pemandian yang biasa digunakan Jayabaya.


Loka Mahkota adalah tempat prabu Jayabaya meletakkan mahkota, beberapa saat sebelum muksa.
Bentuk bangunannya menyerupai cungkup mahkota setinggi 4 meter.

Pada awal tahun baru Hijriyah atau 1 Muharam komplek tempat muksanya Jayabaya ramai dikunjungi orang. Mereka datang dengan maksud dan tujuan yang berbeda-beda. Mulai dari sekedar berziarah hingga mencari berkah. Di komplek petilasan pada tanggal 1 Muharam atau 1 Suro digelar berbagai prosesi ritual napak tilas. Acara yang diadakan oleh Yayasan Hontodento dari Yogyakarta dan pemerintah kabupaten Kediri ini, selain untuk menghormati Jayabaya juga dijadikan agenda wisata budaya rutin tiap tahun. Rangkaian prosesi tersebut diawali dengan doa bersama yang digelar di balai desa Menang.


Dalam prosesi tabur bunga, pembawa dan yang menaburkan bunga haruslah gadis yang masih perawan.

Selanjutnya rombongan warga yang mengenakan busana Jawa tersebut, melakukan kirab atau berarakan menuju petilasan. Dalam barisan kirab terdiri dari para sesepuh, pembawa payung pusaka, pembawa bunga dan warga sekitar. Rombongan pembawa ubo rampe atau segala kebutuhan upacara lebih didominasi oleh para gadis yang masih perawan dan para jejaka. Setelah memasuki area petilasan tidak semua rombongan bisa memasuki petilasan. Hanya para sesepuh dan pembawa ubo rampe saja yang boleh masuk. Setelah prosesi upacara selesai, rombongan yang lain baru diperbolehkan masuk.



Peserta ritual lebih banyak didominasi oleh para gadis dan jejaka.
Di area petilasan digelar beberapa prosisi upacara, antara lain prosesi tabur bunga yang dilakukan oleh para perawan disekitar tempat muksanya Jayabaya. Tak jarang dalam prosesi ini para pengunjung berebut bunga yang digunakan ritual tabur bunga. Menurut para peziarah, bunga yang digunakan dalam upacara ini banyak memiliki berkah. Selanjutnya prosesi utama adalah penyemayaman pusaka Jayabaya di lokasi petilasan. Dalam ritual ini dilanjutkan permohonan doa yang dipimpin oleh seorang sesepuh.



Dengan diselimuti aroma dupa seorang sesepuh memanjatkan doa di area petilasan.
Seluruh rangkaian ritual tersebut, diakhiri di Sendang Tirto Kamandanu. Sebuah sendang yang terletak sekitar 1 km dari petilsan tempat muksa Jayabaya. Hal ini dilakukan untuk membuang sial dan pengaruh jahat yang bisa mengganggu para peserta ritual.


Setelah beberapa ritual di kompleks petilasan selesai digelar,
rombongan melanjutkan kirab menuju Sendang Tirto Kamandanu.

Meskipun seluruh prosesi ini dilakukan setiap satu tahun sekali, tapi pada hari-hari tertentu petilasan Jayabaya juga ramai dikunjungi orang baik dari dalam maupun luar kabupaten Kediri. Menurut warga sekitar petilasan, tak jarang para tokoh politik juga sering melakukan ziarah ditempat ini.

Gunung kelud

Sejak abad ke-15, Gunung Kelut telah memakan korban lebih dari 15.000 jiwa. Letusan gunung ini pada tahun 1586 merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa.[1] Sebuah sistem untuk mengalihkan aliran lahar telah dibuat secara ekstensif pada tahun 1926 dan masih berfungsi hingga kini setelah letusan pada tahun 1919 memakan korban hingga ribuan jiwa akibat banjir lahar dingin menyapu pemukiman penduduk.
Pada abad ke-20, Gunung Kelut tercatat meletus pada tahun 1901, 1919 (1 Mei[2]), 1951, 1966, dan 1990. Tahun 2007 gunung ini kembali meningkat aktivitasnya. Pola ini membawa para ahli gunung api pada siklus 15 tahunan bagi letusan gunung ini.
Aktivitas gunung ini meningkat pada akhir September 2007 dan masih terus berlanjut hingga November tahun yang sama, ditandai dengan meningkatnya suhu air danau kawah, peningkatan kegempaan tremor, serta perubahan warna danau kawah dari kehijauan menjadi putih keruh. Status "awas" (tertinggi) dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sejak 16 Oktober 2007 yang berimplikasi penduduk dalam radius 10 km dari gunung (lebih kurang 135.000 jiwa) yang tinggal di lereng gunung tersebut harus mengungsi. Namun letusan tidak terjadi.
Setelah sempat agak mereda, aktivitas Gunung Kelut kembali meningkat sejak 30 Oktober 2007 dengan peningkatan pesat suhu air danau kawah dan kegempaan vulkanik dangkal. Pada tanggal 3 November 2007 sekitar pukul 16.00 suhu air danau melebihi 74 derajat Celsius, jauh di atas normal gejala letusan sebesar 40 derajat Celsius, sehingga menyebabkan alat pengukur suhu rusak. Getaran gempa tremor dengan amplitudo besar (lebih dari 35mm) menyebabkan petugas pengawas harus mengungsi, namun kembali tidak terjadi letusan.
Akibat aktivitas tinggi tersebut terjdi gejala unik yang baru terjadi dalam sejarah Kelut dengan munculnya asap putih dari tengah danau diikuti dengan kubah lava dari tengah-tengah danau kawah sejak tanggal 5 November 2007 dan terus "tumbuh" hingga berukuran selebar 100m. Para ahli menganggap kubah lava inilah yang menyumbat saluran magma sehingga letusan tidak segera terjadi. Energi untuk letusan dipakai untuk mendorong kubah lava sisa letusan tahun 1990.
Sejak peristiwa tersebut aktivitas pelepasan energi semakin berkurang dan pada tanggal 8 November 2007 status Gunung Kelud diturunkan menjadi "siaga" (tingkat 3).

Puhsarang

Gereja Katolik di Puh Sarang didirikan oleh Ir. Henricus Maclaine Pont pada tahun 1936 atas permintaan pastor paroki Kediri pada walctu itu, Pastor H. Wolters, CM. Insinyur tersebut juga menangani pembangunan Museum di Trowulan, Mojokerto, yang menyimpan peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit.
Sayang bahwa gedung museum di Trowulan itu sudah hancur pada tahun 1960 karena kurang dirawat dengan baik sebab kurangnya dana untuk pemeliharaan dan perawatan. Bangunan gereja Puh Sarang mirip dengan bangunan museum Trowulan, maka dengan melihat gereja sekarang kita bisa membayangkan bagaimanakah bentuk museum Trowulan dulu kala. Pastor Wolters, CM, minta agar sedapat mungkin digunakan budaya lokal dalam membangun gereja di stasi Puh Sarang, yang merupakan salah satu stasi dari paroki Kediri pada waktu itu.

Peletakan batu pertama gereja tersebut dilakukan pada tanggal 11 Juni 1936, bertepatan dengan pesta Sakramen Mahakudus, oleh Mgr. Th. de Backere, CM, Prefektur Apostolik Surabaya pada waktu itu. Dalam gereja kuno ini terdapat dua bagian pokok yakni Bangunan Induk dan Bagian Pendapa.

Kalau kita melihat dari jauh, gereja di Puh Sarang mirip dengan perahu yang menempel pada sebuah bangunan mirip gunung. Bangunan yang mirip gunung ini melambangkan atau menggambarkan Gunung Ararat di mana dulu perahu nabi Nuh terdampar setelah terjadi air bah, yang menghukum umat manusia yang berdosa (Kej 8:4), sedangkan bangunan yang mirip perahu tadi menggambarkan atau melambangkan Bahtera atau Perahu Nabi Nuh, yang menyelamatkan Nuh dan keluarganya yang percaya pada Allah, bersama dengan binatang-binatang lainnya.

Ubalan

objek Sumber Ubalan Kalasan ini berada sekitar 18 km dari kota Kediri,Jawa timur ke timur, dan berlokasi di Kalasan, Minyak jarak desa, Ploso klaten sub-distrik. Sumber Ubalan Kalasan adalah tempat rekreasi kolam renang alam yang diyakini sebagai tempat suci.

Orang-orang yang tinggal di wilayah sekitar obyek ini memperlakukannya sebagai Berkah Tempat yang akan membawa kehidupan yang baik bagi seseorang, untuk membuat hidup lebih lama dan untuk membuat sesuatu lebih mudah bagi mereka yang mencari pasangan. Ubalan area adalah tempat rekreasi yang mencakup wilayah 12 hektar termasuk arena berkemah


Masjid Annur Pare

Masjid ini terletak di Jalan Panglima Sudirman, Pare, Kediri, menjadi representasi penting untuk masyarakat setempat. Selain sebagai tempat ibadah, masjid yang dibangun pada tahun 1996 ini, juga merupakan pusat syiar Islam di Pare dan Kediri. Pembangunan masjid di tanah seluas sekitar 4 hektar ini sempat terhenti karena krisis moneter 1997, namun akhirnya berhasil diselesaikan dengan menelan biaya sekitar Rp 200 milyar. Biaya pembangunan itu sungguh besar untuk ukuran sebuah masjid, namun menjadi wajar bila ditengok dari bangunan masjid yang namanya diambil dari Kyai Nurwahid, pejuang Islam yang terkenal di Pare yang dimakamkan di Desa Tulung Rejo, Pare.

Seperti kebanyakan masjid di Indonesia, arsitektur Jawanya bisa dilihat pada bentuk atap masjid, yaitu atap tajug untuk bangunan induknya dan atap joglo untuk bangunan tempat masuk. Agar terkesan ekspresif, atap tajug dirancang berebntuk piramid di bagian atasnya, dengan kemiringan sudut yang dipertajam sedemikian rupa, sehingga diperoleh kesan atap yang menjulang ke langit. Bangunan beratap
tajug dan joglo itu, konon, telah dikenal sejak masa Kerajaan Kahuripan dan Doho.

Dalam arsitektur tradisional Jawa, biasanya atap tajug atau joglo ditunjang 4 soko guru. Pada masjid An-Nur, setiap soko guru itu digandakan menjadi
empat soko guru. Keempat soko guru ini disatukan oleh balok pengikat yang saling bersilangan di tengah dengan arah miring ke atas dan bersatu di titik puncak persilangan. Pada titik inilah balok pendukung space frame yang digunakan untuk konstruksi atap itu bertumpu. Struktur space frame dipilih untuk kerangka atap bertujuan untuk memberi kesan ringan yang diekspresikan oleh rerangka space frame tersebut, yang sengaja tidak ditutup dengan plafond, sehingga kontras dengan kesan kokohnya susunan balok dan soko-soko guru pendukungnya.

Rancangan Masjid An-Nur ini diilhami oleh
John Portman, arsitek asal Amerika. Salah satu elemen rumah yang paling menonjol adalah kolom-kolomnya. Kolom yang di'ledak'kan atau di'bengkok'kan (exploded column), yang didalamnya dikosongkan dan difungsikan khususnya untuk sirkulasi antar ruang dan tangga yang menghubungkan lantai bawah dan lantai atas. Kolom yang di'bengkok'kan inilah yang digunakan perancang untuk kolom-kolom masjid bagian luar, dengan tujuan untuk memberi proporsi yang sesuai dengan jarak kolom yang membentengi tiga traffee bagian luar. Selain itu juga memberikan tampilan yang kontras antara kolom lingkar yang kokoh dengan bidang dinding kaca lebar yang transparan di lantai satu. Bidang dinding kaca ini diperlukan untuk memberi kesan bebas pada para jamaah dari dalam masjid yang ingin melihat ke taman di luarnya.

Konsep arsitektur inilah yang mengantar
Masjid An-Nur mendapat penghargaan Juara Pertama Sayembara Internasional untuk kategori Perancangan Arsitektural Masjid, termasuk pemanfaatan teknologi modern dalam arsitektur masjid. Penghargaan ini diberikan oleh Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia dalam rangka memperingati 100 tahun berdirinya Kerajaan Saudi, akhir Januari 1999 lalu. 

Bendungan Gerak Waru Turi

Bendung ini dibangun untuk menggantikan fungsi intake Mrican lama yang mengairi darerah irigasi Warujayeng dan intake Turi lama yang mengairi daerah irigasi Turi Tunggorono serta menambah suplai air untuk daerah irigasi Papar Peterongan.
Sebagai bangunan sarana dan prasarana pengairan dimanfaatkan pula sebagai tempat pariwisata, oleh karena itu pula maka oleh Perum Jasa Tirta I dikembangkan sebagai kawasan Taman Wisata.
Upaya pengembangan dan pembangunan pariwisata oleh Perum Jasa Tirta I di Kabupaten Kediri ini telah dilakukan dengan melakukan berbagai penambahan fasilitas penunjang pariwisata di Taman Wisata Bendung Gerak Waru Turi Mrican sesuai tuntutan dan kebutuhan wisatawan di masa sekarang dan masa mendatang.
Taman wisata ini berada sebelah utara ± 7 km, ± 10 menit dari Kota Kediri, tepatnya di Desa Gampeng, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri. Panjang bendungan yang 159 meter digunakan sebagai pengendali air Sungai Brantas, dan sebagai tempat wisata, tempat ini juga dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas wisata.

Candi Surowono

Dusun Templek Desa Gadungan Kecamatan Puncu merupakan tempat yang empunya blog ini berasal, dengan wilayah yang kecil, masih banyak pepohonan hijau disini serta mata kehidupan orang didaerah sini yang mayoritas sebagai pengharajin genteng (mungkin berasal dari peninggalan orang belanda karena kata orang - orang terdahulu didearah ini banyak menir - menir belanda tinggal disini), sungguh membuat empunya blog selalu rindu akan daerah ini. Ini skrinsut daerah templek waktu jaman belanda dulu!
Dusun Templek Jaman VOC (Collectie Tropenmuseum Steenfabriek Templek-Pare-Residentie Kediri)

Tidak jauh dari dusun Templek tersebut terdapat sebuah area candi Surowono, Candi Surowono secara administrasi terletak di Desa Canggu, kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Propinsi Jawa Timur.
Candi Surowono di Daerah Pare
Candi ini diperkirakan oleh para arkeologi merupakaan pendharmaan Bhre Wengker dari masa Majapahit. Seperti yang terawat dalam kitabnegara Kertagama bahwa Bhre Wengker meninggal pada tahun 1388 M di dharmakan di Curubhana.
Tampak Salah Satu sisi Candi Surowono
Candi ini diperkirakan didirikan pada tahun 1400 M karena pendharmaan seorang Raja dilakukan setelah 12 tahun raja itu meninggal setelah dilakukan upacara Srada.

Candi ini berdenah bujur sangkar menghadap ke barat berukuran 7,8 x 7,8 m dengan tinggi 4,72 meter. Bagian pondasinya terbuat dari bata sedalam 30 cm dari permukaan tanah. Secara vertical arsitekturnya terdiri dari bagian kaki dan tubuh terbuat dari batu andesit, sedangkan atapnya sudah runtuh.
Candi Surowono Berbentuk Bujur Sangkar
Bentuk candi ini Tambun berbeda dengan bentuk candi - candi periode Majapahit lainnya yang langsing ataupun ramping.

Pada keempat sudut candi terdapat raksasa (gana) duduk jongkok lengan menyunggi ke atas seakan - akan mendukung Prasawyapatha. Dibagian kaki terdapat relief binatang dan cerita tantri. Relief tersebut berupa lembu dan buaya, burung dengan yuyu, singa dengan petani, ular dengan binatang berkaki empat, gajah dengan badak, orang dengan kera, kijang dengan burung, serigala, naga, kura - kura, itik dan ikan.
Salah Satu Relief Gana yang Ada disudut Candi
Terlihat disisi yang lain Relief Gana yang telah kehilangan kepalanya
Kemudian di masing - masing sisi terdapat tiga panil relief, sebuah panil besar diapat dua panil kecil. Panil - panil besar dan panil kecil yang berada disudut barat daya berelief cerita Arjuna Wiwaha. Penggambaran Reliefnya Arjuna diikuti dua punakawan menghadapi babi hutan yang terkena anak panah. Tangan Kanan Arjuna menunjuk anak panah dan tangan kiri berada di pinggannya. Di depan babi berdiri Batara Siwa, tangan kanan dipinggangnya tangan kiri memegang busur.
Relief Panel di Candi Surowono
Disisi yang lain
Panil kecil yang berada disudut timur laut berilief cerita Bubuksah. Penggambarannya ada dua orang duduk berhadapan. Panil kecil di sudut tenggara berelief cerita Sri Tanjung. Penggambarannya ada seorang wanita naik ikan (Sri Tanjung) seorang laki - laki duduk, pergelangan kaki kiri diletakkan dipaha kanan (Sidapaksa duduk di tepi sungai yang dilalui roh Sri Tanjung)
Gambar Seorang Perempuan (Sri Tanjung)
Pada bagian tubuh terdapat hiasan tonjolan- tonjolan bunga teratai (Padma). Berdasarkan relief ceritanya Candi Surowono berlatar belakang Agama Hindu.

Sementara disekitar area masuk terdapat potongan - potongan dari bagian candi yang tampak disusun dalam satu area yang membujur disepanjang jalan masuk candi. Disana terdapat beberapa potongan dari bagian - bagian candi baik kepala patung atau bagian yang lainnya.
Tampak Potongan bagian dari Candi yang dikumpulkan

Alun-alun Pare(Tamrin)

Kali ini kita mengunjungi salah satu sudut kota Pare yg cukup terkenal bagi warga Pare dan sekitarnya…yak betul Alun-alun Thamrin. Sebetulnya yang disebut Alun-alun Thamrin oleh warga Pare adalah taman kota yang berlokasi di bekas lapangan Persendo (nah apa itu Persendo, penulis sendiri juga belum menemukan narasumber pastinya).



Taman kota ini sendiri dibangun untuk mengenang pencapaian Pare yang pernah mendapat Piala Adipura untuk kategori kota kecil. Ya, piala yang dulu pernah diberikan kepada kota-kota yg berpredikat “Terbersih” itu pernah didapat Pare sebanyak 2 kali (tepatnya kapan penulis lupa). Karena Pare tidak mempunyai alun-alun sebagaimana kota lainnya (justru alun-alun Pare jaman Belanda dulunya adalah bertempat di terminal angkota dekat pasar Pare), maka warga Pare menganggap taman tersebut sebagai alun-alun.



Nama Thamrin ini yg aneh..karena di Pare tidak ada jalan atau bangunan dengan nama MH. Thamrin, nama pahlawan nasional kita. Menurut sumber yang tidak bisa dipercaya kebenarannya, warga Pare menyebut taman ini dg Taman Ringin Budho (disingkat Tamrin….). Ringin Budho itu apa, mungkin akan dibahas di lain waktu. Nah, jadilah nama Alun-alun Thamrin itu.



Di malam hari, terlebih-lebih malam Minggu, Thamrin dipenuhi oleh warga Pare, baik tua maupun muda tumplek blek di sini. Tak ada aktivitas khusus di sana, ya sekedar kongkow, mejeng, atau bahkan momong anak…Pedagang kaki lima ? Jangan tanya lagi…penuh sesak. Mulai dari penjual makanan, mainan, minuman, dan lainnya bersaing di sini. Untungnya, kebersihan taman ini tetap terjaga. Lihatlah dari foto-foto berikut, yang diambil pada Minggu pagi tanggal 27 Januari 2008, beberapa orang petugas kebersihan membersihkan sampah-sampah di seputar taman.



Ya syukurlah..biasanya kebanyakan orang kita itu pintar membangun tapi tidak pintar merawat. Keberadaan Alun-alun Thamrin memang cukup dsc00132.jpgdirasakan manfaatnya bagi warga Pare yang haus akan adanya ruang terbuka untuk publik di kotanya. Seharusnya taman seperti ini ditambah lagi jumlahnya di tempat lain di sudut kota Pare. Kelak mungkin warga Pare juga bisa menikmati taman yg seperti di kota-kota besar. Ada fasilitas bermain dan belajar, yang dilengkapi dengan fasilitas bermain untuk anak-anak, ada hotspot WIFI bagi mereka yg ingin “surfing internet” di taman, dan yang terpenting memberi pelajaran bagi warga kota akan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan hidup, demi kenyamanan hidup di kota yang semakin panas ini. Semoga kelak mimpi itu terwujud